PEMBANGUNAN PERTANIAN PEDESAAN

PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN KESEJAHTERAAN

MASYARAKAT PEDESAAN

Oleh: 

Erond L. Damanik, M.Si 

Pengantar

Hubungan antara pembangunan pertanian (agricultural development) dan kesejahteraan pedesaan (rural of welfare) merupakan proses timbal balik,  yang satu mempengaruhi yang lain. Meskipun masing-masing memerlukan program tersendiri tetapi beberapa program pedesaan sekaligus dapat bermanfaat bagi kedua-duanya. Kesejahteraan pedesaan yang dimaksud dalam hal ini adalah tingkat kepuasan bagi penduduk pedesaan. Ini berarti meningkatnya kwalitas kehidupan pedesaan dan tidak berarti semata-mata  sumbangan yang menyenangkan bagi masyarakat pedesaan dari pihak luar.      Setiap perekonomian pertanian (economic agricultural) sangat jalin-menjalin  dengan seluruh kebudayaan  dipedesaan, suatu cara hidup menyeluruh (holistic paradigm) dipedesaan dengan struktur sosialnya (social structure), adat istiadatnya (customs), nilai-nilai (values) dan sikap-sikap pribadinya. Produksi hanya merupakan satu aspek saja dari setiap kebudayaan dan tidak dapat dipisahkan secara mutlak dari aspek lainnya. Beberapa ahli ekonomi mempunyai pendapat yang benar yaitu bahwa petani-petani (farmers) dan bahkan juga petani subsistens (peasants), cukup rasionil dalam arti bahwa mereka menggunakan sedapat mungkin sumber-sumber (resources) yang ada pada mereka untuk dapat mencapai yang mereka inginkan. Tetapi tidak benar apabila karena itu lalu disimpulkan bahwa tujuan petani ialah hanya untuk memperoleh pendapatan bersih (net income) yang setinggi-tingginya saja. Kebanyakan petani dimanapun mereka berada selalu dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya; mereka dipengaruhi oleh tradisi-tradisi dan nilai-nilai setempat meskipun didalam pertanian yang sudah komersil atau pertanian yang telah beriorentasi pasar (market oriented) sekalipun. Pertanian tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh kebudayaan di pedesaan   yang ada. Oleh sebab itu, program-program untuk  merubah sifat-sifat kebudayan dipedesaan dapat membantu dalam memajukan pembangunan pertanian.   Jelaslah bahwa didalam berusaha bertani untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian, kita juga perlu menyadari bahwa tujuan-tujuan lain juga sangat penting bagi negara dan sebenarnya harus dicapai sekaligus.  Salah satu diantaranya ialah dalam hal integrasi nasional (national integrations) yakni dengan membawa semua warganegaranya ke dalam arus utama dari kehidupan bersama (common life). Yang lain adalah taraf keadilan ekonomi (economy justice) yakni bagaimana pembagian penghasilan diantara seluruh warga masyarakatnya. Tidak ada suatu program pembangunan pertanian yang dapat memuaskan dalam jangka panjang apabila hanya berhasil meningkatkan kehidupan petani-petani yang sudah mampu saja, meskipun dengan efisiensi yang tinggi mengenai cara-cara penggunaan sumber-sumber yang tersedia. Tidaklah bijaksana kiranya, apabila ahli pertanian misalnya menyerahkan masalah yang berhubungan dengan tujuan-tujuan lainnya itu sepenuhnya kepada orang lain. Semua hal itu perlu kiranya diperhatikan dalam program-program pembangunan pertanian (agricultural development programs).  

Beberapa Input dalam Kebijakan Pertanian       

     Pertanian disuatu negara  mempunyai basis yang terdiri  atas beribu-ribu atau berjuta-juta usaha tani dari berbagai jenis atau ukuran.  Apa yang dihasilkan serta bagaimana caranya menghasilkan  dimasing-masing usaha tani itu ditentukan oleh petani pengusahanya.  Petani pengusaha pada usahatani yang benar-benar subsisten mengambil keputusan  atas dasar keputusan konsumsi keluarganya sendiri (self consumption) dan atas dasar apa yang dapat dihasilkan dengan tenaga kerja keluarga itu tanpa mengambil manfaat dari sarana produksi dan alat-alat pertanian yang dibeli ataupun tenaga kerja yang disewa.    Hanya dalam pertanian yang subsisten (subsistence agriculture), atau  yang produktivitasnya konstan, segala input usaha tani dapat dicukupi dari tanah dan oleh petaninya sendiri. Dalam pertanian yang maju, yakni dimana masing-masing usahataninya terus menerus meningkatkan produktivitasnya, kebanyakan para petaninyapun menggunakan input yang dihasilkan oleh bidang-bidang perekonomian lain.    Setiap usaha tani memperoleh input berupa tenaga kerja dan pengelolaan dari petaninya dan memperoleh input berupa energi matahari, zat hara tanah (topsoil), kelembapan, suhu tanah, dan udara dan pengaruh-pengaruh perubahan cuaca dan tanah. Tanah juga mencakup pengaruh yang berasal dari tindakan manusia  berupa  irigasi dan penambahan kesuburan tanah sebagai hasil dari pengolahan yang baik pada masa lampau.   Tetapi, mengenai apa yang dapat dihasilkan dengan hanya mempergunakan input tersebut saja ada batas maksimumnya. Agar produksi dapat meningkat diatas batas tersebut, maka perlu ditambahkan jenis input lain. Ini berupa input-input yang berasal dari kehidupan ekonomi yang luas dimana petani hidup dan bekerja. Termasuk kedalamnya ialah pupuk buatan (fertilizers), benih unggul (hybride), pestisida (pesticides) dan alat serta perlengkapan ataupun  pengangkutan. Disamping itu, termasuk pula didalamnya ilmu pengetahuan, ketrampilan, perangsang, teknologi baru yang dapat meningkatkan kemampuan petani.  Untuk mendapatkan informasi mutlak yang diharapkan petani di pedesaan yang berkaitan dengan pengelolaan pertaniannya, maka sangat dibutuhkan ragam sentuhan seperti maksimalisasi program nyata dari penyuluh pertanian  maupun melibatkan dampingan atau asistensi bagi masyarakat petani. Program semacam ini dapat dijadikan sebagai momentum nyata, dimana pihak luar desa (inovator) senantiasa memberikan dampingan  pada setiap permasalahan yang dihadapi petani. Dengan cara seperti ini, permasalahan pertanian yang dihadapi petani desa dapat direduksi.  

Pola Kebijakan Pembangunan  Pertanian           

          Persoalan klasik yang dihadapi oleh petani kita adalah minimnya kemampuan dalam  mengadakan berbagai kelengkapan dengan apa yang disebut dengan sistem pertanian modern seperti pengadaan pupuk kandang, pupuk organik, pestisida,  benih unggul serta peralatan pertanian, irigasi maupun sistem pengelolaan pertanian. Tentu saja persoalan ini melibatkan jumlah dana yang dibutuhkan untuk memperoleh sejumlah point yang disebutkan diatas.  Namun sebenarnya yang acapkali dilupakan oleh petani kita adalah bahwa mereka juga kurang mengakui bahwa apa yang mereka lakukan terkait cara-cara bertani, pola-pola pengendalian ataupun pemeliharaan masih saja mengandalkan kemampuan tradisional yang berdasarkan pengalaman semata.    Akibatnya, berbagai persoalan seperti penanganan hama tanaman  yang terkait dengan iklim, struktur tanah, tingkat kekebalan hama penyakit tanaman kurang mendapat perhatian mereka. Dampaknya ialah  bahwa mereka acapkali menggantungkan harapan mereka bahwa yang kurang dimiliki oleh petani kita itu adalah jumlah dana yang terbatas dalam pengadaan pestisida atau pupuk maupun benih yang lebih baik. Ketiadaan dana menjadi alasan bagi mereka untuk tidak  turun ke sawah atau ke ladang dan lebih menerima keadaan diri mereka sebagai nasib yang tidak berpihak.    Disatu sisi, persoalan dana  yang dibutuhkan dalam pertanian di Indonesia tergolong mahal. Ragam pupuk, pestisida, dan benih unggul hampir keseluruhannya merupakan baang import sehingga biaya pengadaannya bagi petani kita terasa mahal. Lain dari pada itu, harga jual pasca panenpun acapkali tidak berpihak bagi mereka. Jumlah yang harus dikeluarkan dalam produksi pertanian tidak sebanding dengan harga jual pasca panen yang mengakibatkan petani kita kian terpuruk. Akibatnya, petani kita tidak pernah bertahan pada suatu komoditas tani tertentu melainkan mencoba seluruh komoditas meskipun pengetahuannya untuk itu belum memadai. Contohnya adalah  seperti yang dihadapi oleh petani padi dan holtikultura di kabupaten Karo dan Simalungun. Persoalan yang dihadapi oleh petani di dua kabupaten tersebut adalah menjamurnya penyakit tanaman (disebut dengan virus tanaman)  yang menyerang berbagai komoditas holtikultura yang menjadi komoditas andalannya seperti kol, tomat, cabai, jagung, kentang ataupun jahe. Penyakit tanaman tersebut hingga kini belum berhasil mereka antisipasi. Keadaan ini kemudian diperparah  oleh menjamurnya pupuk, pestisida dan benih palsu ataupun ketidakefektifan badan penyuluh pertanian. Akibatnya, mereka banyak mengutamakan pengetahuan mereka yang serba terbatas dengan tanpa sentuhan teknologi pertanian. Sehubungan dengan itu, dibutuhkan berbagai pola-pola kebijakan dalam pembangunan pertanian kita. Salah satu pola yang dirasa tepat dan efektif adalah dengan bentuk pendampingan atau asistensi. Dalam program pendampingan dan pemberdayaan (asistance and development)  ini,  ingin diaktualisasikan  program nyata yakni mendampingi para petani dalam budidaya pertaniannya sehingga setiap persoalan pertanianya dari waktu ke waktu senantiasa mendapat solusi. Untuk itu, dibutuhkan tenaga-tenaga pendamping yang handal serta memberikan perhatian yang tinggi terhadap nasip petani kita dipedesaan. Dalam tugas-tugas pendapingan seperti itu, tidak semata-mata hanya menyertai para petani dari waktu ke waktu di sawah atau diladang, tetapi berupaya mencarikan solusi apabila petani mendapatkan problema. Misalnya, apabila petani mendapat serangan hama penyakit, maka tugas pendamping adalah menguji jenis hama yang muncul di laboratorium kemudian memberikan jenis pestisida yang cocok untuk jani hama tersebut. Demikian pula dalam hal penyesuaian antara jenis pupuk, tanaman dengan jenis tanah. Upaya-upaya seperti ini dapat ditumbuhkembangkan dengan melibatkan berbagai unsur seperti pemerintah maupun swasta. Dari pihak pemerintah yakni cukup memberikan jaminan bahwa pupuk, pestisida dan benih yang beredar di pasaran bukan palsu dan tentu saja harga dapat dijangkau petani, atau juga membekali para penyuluh pertanian untuk terjun langsung ke lapangan dan bukannya ngantor di departemen.  Sementara itu, pihak swasta atau lembaga-lembaga yang konsern terhadap masyarakat desa dapat memberikan contoh-contoh pendampingan yang baik sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat petani di desa-desa. Dengan cara itu, pertanian dapat dibuat sebagai jaminan kesejahteraan masyarakat pedesaan terutama dalam upaya akselerasi pembangunan di berbagai sektor yang digulirkan di Indonesia. Niscaya, tanpa pendekatan-pendekatan  seperti itu maka mustahil dapat mengangkat status sosial petani di pedesaan.? 

Penulis: Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Lembaga Penelitian

Universitas Negeri Medan 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: