KEBUDAYAAN DAERAH

KEBUDAYAAN DAERAH: TANTANGAN MASA  KINI 

Oleh 

Erond Litno Damanik, M.Si.  

  1. Pengantar

Kebudayaan cenderung untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan masyarakat pedukungnya. Dikota-kota besar ataupun dilain daerah dimana pergaualan antar suku bangsa berlangsung, diperlukan system referensi atau kebudayaan yang memadai. Bukan tidak mungkin,  disamping kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang didukung oleh kebudayaan setempat, juga berkembang kebudayaan baru yang dapat dipergunakan sebagai  referensi dalam pergaulan lintas suku bangsa yang terlibat. Kebudayaan suku bangsa dikota-kota besar tidak dapat berkembang lagi karena terdesak oleh kebudayaan pasar atau daerah yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Sementara orang  Betawi misalnya, berusaha melestarikan kebudayaan mereka dengan membentuk Lembaga Kebudayaan Betawi, sebahagian dari mereka malah berusaha memperluas kebudayaannya menjadi kebudayaan daerah (khusus ibukota) Jakarta yang cepat didukukng oleh anggota masyarakat yang lebih luas.  Atau juga seperti kebudayaan Batak Toba  dengan cara membentuk Partukkoan Batak Toba di Sumatera Utara dan bahkan melakukan penelitian ataupun riset  melalui Lembaga Penelitian Kebudayaan Batak Toba di Universitas HKBP Nommensen Medan.  Keadaan seperti ini, disamping berupaya untuk melestarikan serta menyempurnakan kebudayaan Batak Toba, juga bertujuan untuk memperluas  penggunanan kebudayaan  tersebut  pada setiap kelompok masyarakt di Sumatera Utara.

Kemungkinan berkembangnya kebudayaan pasar atau daerah itu bukan tidak ada, lebih-lebih kalau kita melihat kebudayaan Betawi yang menurut sejarahnya merupakan hasil akulturasi (perpaduan) banyak kebudayaan yang dibawa oleh pendukung-pendukungnya yang kemudian menetap di Batavia pada masa lampau.

  1. Kebudayaan Nasional dan Daerah

Dewasa ini, dikota-kota besar maupun dipelosok tanah air telah berkembang kebudayaan nasional, terutama sejak intensifikasi administrasi dan pembangunan yang dilaksanakan oleh pihak pemerintah. System politik dan dalam batas-batas tertentu juga system kemasyarakatan nasional, mulai berkembang diseluruh tanah air.  Belum lagi sistem pendidikan nasional yang meruapakn tulang punggung pembinaan budaya generasi muda bangsa Indonesia yang telah digalakkan secara nasional. Disamping itu, kita juga memiliki bahasa nasional, sebagai salah satu unsur kebudayaan  yang memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.  Demikian juga sistem pertahanan dan perlawanan rakyat yang dapat membangkitkan rasa persatuan lewat perasaan senasip yang sedang ditanamkan pada masyarakat.Pengaruh sistem perekonomian dan teknologi nasional sudah mulai terasa di seluruh tanah air, disamping sistem religi yang memang sejak semula mendapatkan perhatian khusus secara nasional. Barangkali, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa disamping kebudayaan suku bungsa, telah berkembang kebudayaan pasar atau daerah, serta kebudayaan nasional sebagai akibat usaha pembangunan yang dilancarkan keseluruh penjuru tanah air.Bahwa disana sini masih terasa kesenjangan perkembangan antara kebudayaan suku bangsa dan kebudayaan nasional maupun daerah, hal itu dapat dimengerti karena masih dalam proses. Setiap kebudayaan yang berkembang akan mengalami proses adaptasi, modifikasi maupun pergeseran nilai-nilai yang berlaku. Penerimaan sosial (social acceptance) atas unsur-unsur kebudayaan baru akan mendorong masyarakat yang bersangkutan untuk menyesuaiaknnya lebih lanjut sebelum terjadi penyerapan secara tuntas. Cepat atau lambatnya kebudayaan berkembang bergantung dari minat dan kebutuhan serta daya tangkap masyarakat terhadap tantangan yang dihadapi.Masyarakat kota yang dekat dengan pusat pembangunan dalam arti pembaruan (inovation), secara cepat, tepat dan terencana akan menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan masuknya unsur-unsur baru. Sebaliknya,  masyarakat pedesaan yang jauh dari pusat-pusat kegiatan sosial budaya kurang bijak menghadapi tantangan perubahan. Tidaklah mengherankan, justru gejolak dan ketegangan sosial lebih banyak timbul dikota-kota daripada dipedesaan. Demikian pula keluhan terhadap akibat pembangunan lebih banyak datang dari kota dibanding pedesaan.Namun demikian, tidak berarti bahwa perkembangan kebudayaan nasional akan menghancurkan kebudayaan suku bangsa atau kebudayaan daerah. Kriteria kebudayaan daerah itu lebih banyak tergantung pada kesadaran masyarakat pendukungnya. Dalam kenyataan, kebanyakan orang dikota-kota besar kini lebih mengutamakan pembinaan dan  pengembangan kebudayaan nasional  yang berlaku sebagai kerangka acuan lintas masyarakat daerah dan suku bangsa dari pada kebudayaan masing-masing suku bangsa saja.  Akibatnya tercermin dalam kekhawatiran pihak-pihak tertentu akan kelestarian kebudayaan-kebudayaan daerah, termasuk kebudayaan suku bangsa yang justru kurang mendapatkan perhatian dari para pendukungnya.Tidak dapat disangkal, bahwa dalam perkembangannya banyak kebudayaan suku bangsa  yang mengalami pergeseran, dalam arti semakin mnyerupai kebudayan-kebudayan suku bangsa di sekitarnya. Demikian pula kebudayaan-kebudayaan daerah atau lokal yang memang sejak semula berkembang sebagai hasil perpaduan  kebudayaan-kebudaay suku bangsa yang mendiami suatu wilayah tertentu secara bersamaan, yang cenderung  untuk berkembang mendekati kebudayaan nasional yang lebih luas jangkauanya. Bukan hal yang tak mungkin bahwa ada kebudayaan-kebudayaan yang mengalami kepunahan karena perkembangannya bersifat konvergensif, atau karena memang pendukungnya telah tersebar dan terasimilasi dengan kelompok suku-suku bangsa lainnya. Contoh  kebudayaan suku bangsa yang seperti ini adalah kebudayaan masyarakat Batam, Bintan, Bengkulu dan Lampung.  

  1. Identitas Kesukubangsaan

Istilah suku bangsa yang telah banyak dipakai di Indonesia sejak tahun enampuluhan, terutama untuk melengkapi istilah ’suku’ yang digunakanuntuk menyebut kesatuan hidup dengan ciri-ciri kebudayaan tertentu. Term ini menjadi penting artinya untuk menurutp ruang kosong yang ditinggalkan oleh ksatuan-kesatuan hidup yang semula dikenal sebagai ’bangsa’ yakni ketika ’bangsa Indonesia’ muncul sebagai suatu kesatuan hidup pengisi negara Indonesia. Dengan demikian,  posisi ’ bangsa’ yang semula dimiliki oleh orang Aceh, Batak, Minangkabau, Jawa, Sunda, Bali, Bugis, Ambon  dan sebagainya, beralih menjadi ’paroh-paroh bangsa’ atau lebih tepat lagi ’suku-suku bangsa’ di Indonesia.Kemunculan ciri-ciri kehidupan sosial kebudayaan yang menekankan adanya identitas kesukubangsaan dilingkungan sosial yang lebih besar yakni merupakan bagian dari kelompok masyarakt yang lebih besar, atau berada dalam sebuah sistem sosial yang lebih besar dan membentuk suatu bagian dari populasi yang lebih besar dan saling beinteraksi dalam suatu kerangka sistem sosial bersama seperti negara.  Dalam hal ini Edward M. Bruner (1974) mengemukakan bahwa perananan kesukubangsaan makin aktif dan menonjol ketika hubungan sosial antar suku bangsa itu makin meningkat dalam interaksi suatu bangsa dari sebuah negara seperti Indonesia sekarang.Pembentukan negara dan Bangsa Indonesia tidak menjadikan masing-masing suku bangsa itu punah dan tenggelam, karena masing-masing masih  tetap mempertahankan identitas kesukubangsaan tertentu dalam rangka interaksi mereka dengan lingkungan kesatuan hidup yang lebih luas. Sejak awal, kenyataan tersebut sudah disadari oleh Bangsa Indonesia, sehingga diungkapkan dalam motto  Bhineka Tunggal Ika. Jika Fredrik Barth (1969) mengemukakan bahwa suku bangsa haruslah dilihat sebagai sebuah organisasi sosial, karena dengan demikian ciri-ciri penting sebagai sebuah kelompok etnik akan tampak, yakni karakteristik dari pengakuan oleh diri sendiri dan pengakuan oleh orang lain. Maka yang kita perlukan sekarang adalah pemahaman tentang bagaimana perosedur pengakuan tersebut berlaku dalam hubungan antar kelompok etnik dalam konteks kehidupan suatu bangsa seperti Indonesia.Ketika momentum 1928 diterima sebagai simbol pengakuan kebangsaan oleh masyarakat bangsa Indonesia yang majemuk, maka sebagai umpan baliknya orang makin menyadari asal-usul dirinya. Pengakuan kepada adanya nusa, bangsa dan bahasa yang sama sebagai atribut utama warga suatu bangsa ’ baru’  mendorong timbulnya pemikiran tentang posisi nusa, bangsa dan bahasa aslinya. Jika identitas kesukubangsaan ditentukan oleh adanya nusa, bangsa dan bahasa kesatuan, maka pada tingkat kesukubangsaan juga dituntut adanya keterikatan emosional seseorang dengan daerah asal dirinya atau kelompoknya, dengan kesatuan sosial yang memberinya kedudukan sosial dasar, dan dengan bahasa etnik yang menjadi alat komunikasi utama dalam kelompok etniknya. Dengan pemahaman yang demikian, maka pengakuan kesukubangsaan paling mudah diungkapkan orang dengan mengacu kepada atribut kedaerahan, kekhasan kehidupan kelompok dan bahasa daerah setempat. Kenyataan ini sesuai dengan pandangan Fredrick Bart dan Brunner  bahwa konsep kesukubangsaan mestilah bisa menjelaskan dinamika pengakuan dari individu-individu dalam hubungan antar suku bangsa pada masyarakat majemuk atau pada setting  kebudayaan etnik yang lebih dominan didaerah-daerah tertentu. Hal terakhir ini terlihat seperti usaha-usaha suku bangsa pendatang di kota Bandung atau Yogyakarta untuk menyesuaiakan diri dengan kebudayaan Sunda atau Jawa yang memang lebih dominan dikota-kota tersebut. Lain lagi seperti di Medan, dimana nihilnya budaya dominan telah mendorong  kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang ada di Medan berlomba-lomba untuk memperluas kebudayaannnya.  Jika demikian, sepanjang  pelestarian dan perluasan kebudayaan tersebut sebagai identitas kesukubangsaan tidak melahirkan  pertentangan dengan kelompok lain, maka tidak  ada yang perlu dikhawatirkan.  Namun, jika sebaliknya, maka kita perlu menemukan bentuk lain dari corak dan model kebudayaan nasional kita. Semoga!  Penulis: Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu SosialLembaga PenelitianUniversitas Negeri Medan

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: